Sedangkanpengertian wara’ dalam pandangan sufi adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak jelas hukumnya, baik yang menyangkut makanan, pakaian, maupun persoalan lainnya. Menurut Qamar Kailani yang dikutip oleh Rivay A. Siregar, wara’ dibagi menjadi dua: wara’ lahiriyah dan wara’ batiniyah.
JAKARTA- Kitab Ar-Risalah merupakan salah satu magnum opus Syekh Abul Qasim Abdul Karim Hawazin bin Muhammad al-Qusyairi an-Naisaburi. Kitab yang ditulis sufi dari abad ke-11 M, ini mencoba mendudukkan tasawuf pada relnya. Dalam kalam pembuka, Imam al-Qusyairi, begitu tersohor dikenal, menulis tentang kaum sufi, Allah benar-benar telah menjadikan kaum ini sebagai kelompok para waliyullah para wali terpilih, mengutamakan mereka atas semua hamba-Nya setelah para rasul dan nabi- Nya. Allah SWT menjernihkan mereka dari segala kotoran sifat manusia; melembutkan hati dan rohani mereka pada pencapaian tempat-tempat musyahadat persaksian rohani pada kebesaran dan rahasia kegaiban Allah SWT. Ia meneruskan, “Ketahuilah, sesungguhnya ahli hakikat sebagian besar telah punah; tidak ada yang tersisa pada masa kita dari kelompok ini kecuali hanya bekas-bekasnya. Sungguh, kelemahan telah terjadi di kelompok ini, bahkan mereka terkikis dari peran kehidupan.” Al-Qusyairi juga mengkritik sikap yang memandang diri dan kelompok berdiri di atas kebenaran. Dengan sikap itu, lahirlah egoisme yang berupaya menyingkirkan siapa pun yang dianggap berseberangan pandangan. “Kebencian yang didasarkan perasaan iri menyebabkan mereka menyebut para pengikut thariqah dengan sebutan yang jelek,” tulisnya. Pada bagian itu, ia mengungkapkan motivasinya dalam menulis Ar-Risalah. Menurut sang imam, banyak pihak yang sesungguhnya belum mengetahui disiplin tasawuf, tetapi mereka dengan lantang mengecam kaum sufi. Sebab, orang-orang itu justru kurang memahami hakikat dan prinsip-prinsip tarekat. Terutama sekali, kalangan fuqaha yang rajin mencari-cari kesalahan pelaku tasawuf akibat dari pemahaman mereka yang tidak mendalam. Ar-Risalah menyatakan, tasawuf adalah aktivitas roh, asah rasa dan olah perilaku yang dilakukan karena dorongan cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam surat al-A'la ayat 4-5 disebutkan قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang membersihkan diri dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia menegakkan sholat.” Al-Qusyairi menegaskan, para mursyid atau guru kaum sufi telah membangun kaidah-kaidah ajaran dengan berdasar pada prinsip tauhid. Mereka menjaganya dari bid'ah. Karena itu, pandangannya dekat dengan para ulama terdahulu salaf ash-shalih serta ahli sunah Rasul SAW. “Tidak didapati dalam ajaran mereka Red unsur-unsur penyerupaan pada al-Haqq panteisme dan peniadaan ateisme,” tulis sang cendekiawan. sumber Harian RepublikaBACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini BeberapaBukti Kesesatan Ajaran Tasawuf. 1. Al Hallaj seorang dedengkot sufi, berkata : “Kemudian Dia (Allah) menampakkan diri kepada makhluk-Nya dalam bentuk orang makan dan. minum.” (Dinukil dari Firaq Mua’shirah, karya Dr. Ghalib bin Ali Iwaji, juz 2 hal.600). Padahal Allah telah berfirman :Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Oleh Abidin Ghozali Al-GrabyaganiPenulis adalah Mahasiswa UIN Syarifhidayatullah JakartaEtika Dalam Pemikiran Sufi“Etika” sebagaimana kita tahu bahwa istilah ini berasal dari kata Yunani kuno. Yang dalam bentuk tunggalnya kata Ethos memiliki banyak arti kebiasaan; adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara berpikir. Dalam bentuk jamak Ta Etha artinya adalah adat kebiasaan. Dan arti terahir ini lah yang menjadi latar belakang terbentuknya kata “Etika” yang oleh filsuf Yunani besar Aristoteles 384-322 menunjukan filsafat yang disebut juga filsafat moral, meneliti kaidah-kaidah yang membimbing manusia sehingga dalam jalan yang baik dan benar. Di dunia barat pemikiran tentang dunia ini berawal dari Sokrates, mazwab Stoa, dan Epikurus. Dalam filsafat India pemikiran etik berpangkal pada ajaran Karma dan Sufi seorang yang mengerti dan mengamalkan ilmu Tasawuf. Kaum sufi akrab dengan berbagai ritual keagamaan seperti wirid, do’a dan i’tikaf untuk melakukan ritual ini kaum sufi ada yang melakukannya dengan cara Uzlah Mengasingkan diri, Muraqabah Kontemplasi penuh dengan kewaspadaan, Muhasabah pemeriksaan atau ujian terhadap diri.Sejak dekade akhir abad ke II Hijriah, Sufi sudah populer dikalangan masyarakat dunia Muslim, Ibrahim Basyuni, dalam kitab “Nasy-at-Tasawuf fi-I Islam” mengungkapkan bahwa kaum sufi di identikkan dengan kaum Muhajirin yang bertempat di serambi masjid Nabi di Madinah, dipimpin oleh Abu Zaar al-Ghiffari. Mereka menempuh pola hidup yang sangat sederhana, zuhud terhadap dunia dan menghabiskan waktu beribadah kepada Allah. pola hidup mereka kemudian di contoh oleh sebagian umat Islam yang dalam perkembangan selanjutnya disebut kaum kemunculan kaum sufi sudah bisa dilacak apakah memiliki konsep hidup yang etis, membedakan mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk. Cara hidup kaum sufi dalam perkembangannya memang mendapakan banyak corak yang pada fase awal kemunculan sufi, fase asketisme setidaknya berlangsung sampai akhir aban II Hijriah dan memasuki fase kedua dimana peralihan dari asketisme ke arah sufisme yang ditandai dengan pergantian sebutan zahid menjadi sufi. Dalam fase ini ramai para ulama sufi bermunculan tak ubahnya jamur dimusim hujan seperti al-Muhashibi w. 243 H, al-Harraj dan al-Junaid al-Bagdadi w. 297 H tokoh terkemuka ini telah mengkonsep hidup etis tentang bagaimana cara hidup yang dilakukan oleh seorang ini agaknya memiliki faktor pemicu paling tidak ada tiga hal pertama karena gaya hidup yang glamor-profanistik dan corak kehidupan materialis-konsumerialis yang dipraktikan oleh kalangan eksekutif dan segera menyebar ke masyarakat luas. dan para kaum sufi melakukan protes dengan gaya murni etis, melalui pendalaman kehidupan rohani-sepiritual. Tokoh populer yang dapat mewakili kelompok ini dapat ditunujuk Hasan al-bashri w. 110 H yang mempunyai pengaruh kuat dalam kesejarahan Islam, melalui doktrin al-zuhd, al-khauf, dan al-raja; selain itu juga Rabiah al Adawiyah w. 185 H dengan ajaran populernya al-mahabbah serta Ma’ruf al-Kharki 9w. 200 H dengan konsepsi al-syauq sebagai ajaran Uzlah Surri as-Saqathi w. 253 H adalah nampaknya menjadi faktor kedua, dilihat dari kondisi sosio-politik pada masanya singgah mengasingkan diri dan menjauhi masyaraka yang sudah memilih hidup hedonis dengan gerakan politik yang mempropaganda pilihan untuk hidup sendiri dan mengindar agaknya cukup rasional untuk mencari jalan tampaknya dari faktor kodifikasi hukum Islam Fiqh dan Teologi yang dialektis rasional, sehingga kurang bermotivasi ethikal yang menyebabkan nilai sepiritualnya hilang, menjadi semajam wahana tiada isi, semacam bentuk tanpa adanya faktor-faktor sehingga menghilangkan atau kurang bermotif etika untuk mengembalikan nilai-nilai kerohaniyan, pengabdian dan kecintaan serta kesatuan dengan alam Malakut. Para kaum sufi ini berjuang. Pada abad ketiga ini juga Abu Yazid al-Bisthomi w. 260 H melangkah lebih maju dengan doktrin al-ittihad melalui al-fana, yakni beralih dan meleburnya sifat kemanusian nasut seseorang kedalam sifat ilahiyat terjadi penyatuaan manusia dengan Tuhan dalam yang sudah dipaparkan Di atas sejak Abad ke-II Hijriyah hingga III Hijriyah banyak sekali tokoh sufi yang muncul antara lain Al-Muhasibi H, Al-Harraj w. 277 H, Al-Junaid al-Bagdadi w. 297, Hasan Al-Bashri w. 110 H, Rabiah al-Adawiyah w. 185 H, Ma’ruf al-Kharki w. 200 H, Surri as-Saqathi w. 253 H, Abu Yazid al-Bistomi w. 260 Hdan begitu seterusnya hingga jaman Imam Al-Ghazali yang bernama lengkap Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali 1058-1111 inilah tokoh yang menurut penulis representatif untuk dirujuk pemikiranya tentang etika. Ia adalah seorang filsuf, teologi, ahli hukum, dan sufi dikalangan barat ia dikenal dengan nama Alqazeel. Al-ghazali lahir dan meninggal di Thus, dan ajaran Etika dalam yang sudah disinggung di atas, bahwa sumber etika dalam sufi adalah Al-Quran. Setelah itu dalam pembahasan ini akan dipaparkan juga sumber-sumber seperti kehidupan Nabi, Akhlak, dan perkataan Sunnah. Setelah itu kehidupan sahabat dan perkataan sebagai sumber pembentuk etika sufiJika kita merujuk pada al-quran dan sunnah kata “etika” yang dalam hal ini diartikan dengan akhlak maka tidak ditemukan yang ditemukan dalam al-quran hanyalah bentuk tunggal yaitu khuluq yang tercantum dalam Al-Quran surah Al-Qalam ayat 4. Ayat tersebut dinilai sebagai konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad Saw. Sebagai rasul, “Sesungguhnya engkau Muhammad beradi diatas budi pekerti yang agung” QS Al-Qalam [68] 4Kata akhlak banyak ditemukan didalam hadis-hadis Nabi Saw., dan salah satu yang populer adalah “ Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”Berpangkal dari Al-Quran dan sunnah. Namun pada kenyataannya perbuatan manusia manusia sangatlah beragam dan memang keberagan tersebut sudah ditentukan oleh Allah. firman Allah tersebut bisa dijadikan Argumen “Sesungguhnya usaha kamu hai manusia pasti amat beragam” QS Al-Lail [92] 4.Keberagaman prilaku manusia dapat ditinjau dari berbagai sudut, antara lain kelakuan yang berkaitan dengan baik dan buruk, prilaku baik dapat mengantar manusia pada Tuhannya sedangkan prilaku yang buruk mengantarkan manusia pada yang dianggap reprensentanif sebagai pemikir sufistik terkait prilaku manusia yang menjurus pada kesengsaraan menawarkan penawar yang dalam hal ini bisa kita sebut sebagai konsep prilaku etis yang berlandasankan pada Ayat Al-quran dan sunnah. Diantaranya Nafsu makan yang rakus Hadist “Tidak yang paling disukai Allah dibanding lapar dan dahaga” sabda beliau pula, “barang siapa memenuhi perutnya kekenyangan tidak akan masuk kerajaan langit” Sabdanya pula, “Lamar adalah raja segala amal”. adalah menjadi penyebab awal daari segala kerakusan, menjadi sumber syahwat, yang kemudian menimbulkan nafsu berbicara kotor Baca QS An-Nisa 114 ini menjadi konsep etis selanjutnya. Kebiasaan berbicara kotor harus segera dihentikan, karena sangat berpengaruh pada hati. Secara khusus, lisan merupakan proyektor hati. Setiap kata yang terlontar akan menjadikan goresan dalam hati dan akan merusak dalam benaknya. Rasullah saw, bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari akhirat, maka hendaknya berkata baik atau diam. “ Bukhari-Muslim sabdanya pula, “Barang siapa banyak bicara, maka banyak salahnya, dan barang siapa banyak banyak salahnya berarti banyak pula dosanya, dan barang siapa banyak dosanya, maka neraka lebih layak baginya.” Al-hadisAmarah adalah nyala api dari neraka Allah swt., yang menjelat hingga keruang hati. Orang yang tidak bisa menahan amaranya identik dengan orang yang telah menggeser prilakunya pada perangai setan yang memang diciptakan dari api. Oleh karena itu, kemampuan mengendalikan amarah dipandang penting oleh agama. Sabda Nabi “Bukanlah orang yang kuat itu karena kemampuan bergulat, tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang bisa mengendalikan nafsunya ketika marah”.Selanjutnya kedengkian, Rasul bersabda “Sesungguhnya dengki hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar” belau juga bersabda “Ada tiga perkara dimana tidak seorang pun yang dapat terlepas darinya, yaitu prasangka, rasa sial dan dengki. Dan aku akan memberikan jalan keluar bagimu dari semua itu, yaitu apabila timbul pada dirimu prasangka, jangan dinyatakan, dan bila timbul didalam hatimu rasa kecewa, jangan cepat dienyahkan, dan bila timbul dalam hatimu rasa dengki, jangan dipertuturkan.”Bakil dan cinta harta, menjadi sorotan selanjutnya yang menjadikan seorang kebada berbuatan buruk. Bakil adalah penyakit hati yang sangat kronis dan riskan baca QS Al-Hasyr 9 yang artinya “Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, nereka itulah orang-orang yang beruntung”. Baca Al-Imran 180, baca QS An-nisa 37. Lalu ambisi dan gila harta, Allah berfirman ”Negri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan dimuka bumi” QS Al-Qashash83 dalam hal ini Rasul bersabda “Cinta harta dan tahta dapat menimbukan kemunafikan di dalam hati, sebagai mana air dapat menumbuhkan buah-buhan”.cinta duunia, adalah pangkal dari segala dosa. Dunia tidak sama dengan harta dan tahta saja. Harta dan tahtah hanyalah bagian kecil saja dari dunia yang amat luas ini. Namun perhiyasan dunia yang diciptakan Allah Firman-Nya “Sesuungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan bagi mu” QS. Al-Kahfi 7 dan segala kesenangannya telah terangkum dalam Baca QS Ali Imran 14 namun, agaknya telah jelas bahwa dunia ini tidak lain hanyalah permainan belak. Baca Al-Hadid 20 ...”Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya”...QS. An-Nazi’at 40.takabur, “Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang wenang.” QS Al-Mu’min 35. Selanjutnya sifat Takjub diri, merasa dirinya hebat karena banyak pengikut atau teman Baca At-Taubah 25. Menyangka diri yang perbutannya paling baik Allah mengabadikan kecamannya dalam Quran...”Sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. QS Al-Kahfi 104. Merasa diri suci Allah mengingatkan dalam Quran “Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” QS An-Najm 32.riya’, Firman Allah swt.”Maka celakalah bagi orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbat riya’...QS. Al-Maa’uun 4 Allah memberikan kisi-kisi kepada siapa yang akan diberi-Nya makan tanpa balasan bahkan ucapan trimakasih tidak butuh Baca QS. Al-Insan 9 dan dalam firman-Nya “barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. QS. Al-kahfi 110itulah macam-macam prilaku yang menyebakan manusia mengarah kepada kesengsaraan. Al-ghazali menghimbau. Ketahuilah, akhlak tercela itu amat banyak. Namun, prinsipnya kembali pada uraian Di atas. Tidak bisa sekedar membersikan sebagian, melainkan harus secara untuk mencapai kemuliaan Al-ghazali mengajarkan yang pertama dalah taubat. Taubat merupakan awal perjalanan para penempuh dan merupakan kunci kehagian para pengharap hadirat Allah. Allah swt. berfirman “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan dir.” QS. Al-baqarah 222Dan firman-Nya pula “Dan bertaubatlah kamu sekalin kepada Allah...”QS. An-Nur 31.Selanjutnya, Khauf Takut, Allah stw. Benar-benar memberikan anugrah kepada oang-orang yang takut kepada-Nya, berupa hidayah, rahmat ilmu dan ridha. Allah swt berfirman“... Petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya” QS. Fathir 28.Allah itu ridha kepada orang-orang takut kepada-Nya, begitu pun orang-orang yang takut pada-Nya itu ridha pada Allah. Baca QS. Al-Bayyinah 8.Zuhud, menjadi pilar utama kaum sufi untuk mencapai kehadirat-Nya. Hal ini pun para sufi berpijak pada Al-Quran. Allah swt. berfirman, “Dan janganlah kamu tunjukan matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” QS. Thaha 131Sepertinya dalam pemikiran etika sufi itu paham betul dengan apa yang harus diharapkannya didunia ini yaitu keuntungan yang akan didapatkan di akhirat kelak bukan didunia ini. Bukan karena tidak diberi jika kita mengharapkan keuntungan didunia ini. Namun Allah tidak akan memberikan apa pun kelak diakhirat. Namun, jika mengharapkan keuntungannya kelak di akhirat maka Allah akan memberikan lebih banyak. Baca QS. Asy-Syuura 20Selanjutanya sabar, Allah swt., berfirman, “Dan bersabarlah Allah beserta orang-orang yang sabar” QS. Al-Anfal 46. Ada beberapa hal yang diberikan kepada orang-orang yang sabar dan tidak diberikan kepada selainnya Mendapat keberkatan sempurna dan rahmat Tuhannya, Baca QS. Al-Baqarah 157, mendapat pahala yang jauh lebih baik dari apada atas apa yang mereka kerjakan Baca QS. An-Nahl 96, tidak berrhenti disitu Allah akan menjadikannya pemimpin Baca QS. As-Sajdah 24 Firman Allah swt. “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” QS. Az-Zumar 10.Syukur, Allah swt., berfirman “Dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang berterimaksih.” QS. Saba 13.Sindiran ayat di atas menjadi motivasi kepada kaum sufi dan menyakini firman Allah swt. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti akan menambah nikmat kepadamu” QS. Ibrahim 7.Ihklas dan jujur, Ikhlas memiliki hakikat, prinsip dan ikhlas adalah niat, sebab dalam niat itu terdapat keikhlasan. Sedangkan hakikat ikhlas adalah kemurnian niat dari kotoran apapun yang mencampurinya. Kesempurnaan ikhlas adalah Al-Ghazali memberikan Pilar-pilar Ikhlas Pilar Pertama Niat,Allah swt., berfirman dalam QS. Al-An’am 52. “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya.”Arti niat menurut kaum sufi adalah kehendak dan keinginan memperoleh ridha Allah Kedua Keihhlasan swt. telah berfirman “Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam Menjalankan agama denga lurus. “ QS. Az-Zumar 3Tawakal, Firman Allah wst. “Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri” QS. Ibrahim 12 banyak bertebaaran ayat-ayat tentang taqwa dalam al-quran yang menjadi landasan kaum sufi dalam menyerahkan diri kepada esensial Hakikat taqwa merupakan kondisi rohani yang lahir dari tauhid, dan pengaruh terwujudnya dalam alam nyata. Tawakal memiliki tiga pilar Pertama, pengenalan diri akan Allah Ma’rifat, kondisi takwa haal dan Allah berfirman, “ Allah mencintainya dan mereka puun mencintainya” Al-Maidah 54. Bagi para kaum sufi puncak dari pada cinta adalah memandang wajah Allah Yang Maha Mulia nanti diakhirat. Menurut Al-Ghazali hal ini tidak mungkin terjadi di Dunia karena tidak mungkin tersingkap sekarang. ...”Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku.” QS. Al-A raaf 143 dan firman-Nya ..”Dia tidak dapat dicapai dengan penglihatan mata”. QS. Al-An’am 103.Ridha terhadap kadha’, Firman Allah Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya” QS. Al-Maidah 119 dalam kaitan ini banyak pula hadist Rasullah seperti sabdanya, “Apabila Allah mencintai seorang Hamba, Dia mencobanya. Jika hamba itu sabar, Allah memilihnya. Dan bila ridha Dia mengutusnya”.Mengingat mati dan hakikat mati serta ragam siksa ruhani, Al-Ghazali telah menyebutkan kesembilan maqam ruhani dan itu bukanlah terdiri sendiri-sendiri. Justru sebagian diantaranya menunjukan esensi maqam yang lainnya, seperti prinsip atau maqam cinta Mahabbah dan prinsip atau maqam ridha Rela terhadap ketetapan Allah; keduanya merupakan maqam tertinggi. Di antara maqam tersebut saling berkaitan dengan maqam lainnya, seperti maqam taubat dan zuhud; maqam takut khuuf dan hal menyangkut kematian Al-ghazali banyak mengihmpun hadis-hadis Nabi, “Perbanyak mengingat pengancur kelezatan-kelezatan!”dan juga sabdanya, ”Barang siapa tidak menyukai pertemuan dengan Allah, Allah pun tidak suka bertemu dengannya.” Dan masih banyak lagi hadis serupa yang Imam Al-Ghazali ingat mati menurut al-ghazali adalah akan membawa manusia benci kepada dunia, sedangkan benci pada dunia adalah pangkal dari kebaikan. Bagi kaum sufi 9Ahli Ma’rifat mengingat Allah itu memiliki dua fungsi dan kegunaan; pertama, benci pada dunia dan kedua, rindu ditutup dengan Introspeksi diri. Gagasan etis al-ghazli ini terdapat dalam kita “Kitab Arba’in fi Ushuliddin” Bairut Daar Kutub Al-Imiyah, cet I, 1409/1988.Kehidupan Sahabat dan Perkataan merekaSumber lain yang dijadikan dalam pemikiran sufi untuk mendapatkan nilai-nilai seperti zuhud dan wara’ Menjaukan diri dari dosa, kesederhanaan dan memusatkan diri kepada Allah. seorang pengkaji sejarah sufi Islam modert, tak mungkin melepaskan mainstream-mainstream spiritual dan intuisi hati yang ada dalam kehidupan para sahabat dan perkataan-perkataan dalam makalah ini tidak akan mungkin untuk menjelaskan atau menderitakan secara keseluruhan kehidupan dan perkataan para sahabat Nabi. Penulis hanya akan menjelasakan secara global sebagai mana perkataan Abu Attabah al-Halwani “apakal kalian tidak ingin aku ceritakan kondisi Hal para sahabat Nabi SAW? “Pertama, bahwa bertenu dengan Allah merupakan sesuatu yang paling mereka cintai dalam kehidupan. Kedua, mereka tak pernah meresa takut terhadap musuh, baik banyak maupun sedikit. Ketiga mereka tidak pernah takut karena permasalahan dunia, dan mereka sangat percaya dengan rizki yang diberikan oleh Allah”Abu bakar Shidik merupakan seorang ahli zuhud hingga berlapar diri selama 6 hari, dan hanya mempunyai sepotong pakaian. Ia berkata “Jika seorang hamba merasa kagum atas perhiyasan-perhiayasan dunia, maka Allah akan membencinya hingga ia melepaskan diri dari perhiasan tersebut” Ia juga berkata tentang takwa yakni karena dirinya tawadhu “Aku menemukan kemulian pada diri ketakwaan, kekayaan pada diri keyakinan, dan keanggungan dalam ketawadhu’an” dan Ia bicara tentang ma’rifah Pengetahuan “Barang siapa yang mencintai sebuah pengetahuan murni, maka akan memalingkan dari selain Allah, serta menjauhkannya dari manusia”. dan junaid salah satu ulama besar sufi menceritakan tentang Abu bakar berkata Kalimat yang paling utama tentang tauhid adalah perkataan Abu bakar yang mengatakan “Maha suci zat yang tidak menciptakan jalan bagi mahluk, kecuali makluk tersebut tak akan mampu untuk mengetahui-Nya”PenutupDemikianlah sumber-sumber ajaran etis dalam pemikiran sufi. Dimana semua perbuatan hendaknya bertujuan untuk mendapatkan keutamaan dari Allah swt. Al-Ghazali menjelasakan dalam tingkatannya bahwa syariat hingga menuju hakikat dan pengetahuan puncak tentang tuhan atau ma’rifat adalah melalui perbuatan – perbuatan yang berdasarkan Al-quran yang telah di jelaskan diatas. K. Bertens “Etika” Jakarta. Gramedia Pustaka Utama, 1993 h. Arif Surahman “Kamus Istilah Filsafat” Yogyakarta. Matahari. 2012 Cet. 1 h. 96 M. Abdul Muiieb dkk. “Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali” Jakarta. PT Mizan Bublika. 2009 Imam Al-Ghazali “Teosofia Al-Quran” Pen.Surabaya Risalah Gusti, 1995 judul asli buku ini “Kitabul Alba’in fi Ushuliddin” Bairut Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1409/1988 cet 1. Abu wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani “Tasawuf Islam Telaah Historis dan Perkembangannya” Jakarta Gaya Media Pratama. 2008 h 54 ibid Tasawuf ialah mistisisme dalam Islam atau sufisme. Istilah ini berasal dari kata Arab Shuf Wol, sejenis pakainan tenunan kasar yang menjadi ciri utama kalangan pertapa awal yang cederung kepada kesederhanan simbolik dari pada kemewahan materi. Lihat Filsafat Selengkapnya
Ruhinilah yang menurut kaum sufi disebut qalb (hati). Menurut doktrin al-Qur’an, manusia adalah wakil Tuhan di muka bumi untuk melaksanakan ‘blueprint’-Nya membangun bayang-bayang surga di bumi ini. Lebih dari itu dalam tradisi sufi terdapat keyakinan yang begitu populer bahwa manusia sengaja diciptakan Tuhan karena dengan penciptaan itu Syukur merupakan kata yang lazim diucapkan dalam keseharian masyarakat. Syukur menjadi pembahasan dalam bab tersendiri dalam kajian tasawuf. Syukur dibahas dengan beragam pandangan orang-orang sufi dalam ar-Risalatul Qusyairiyyah. Pembahasan syukur dalam ar-Risalatul Qusyairiyyah diawali dengan kutipan Surat Ibrahim ayat 7 لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ Artinya, “Sungguh, jika kalian bersyukur, niscaya Kutambahkan nikmat kalian,” Surat Ibrahim ayat 7. Terkait syukur, al-Qusyairi mengutip sebuah hadits yang menceritakan Atha dan Ubaid bin Umair. Suatu hari keduanya menemui sahabat Aisyah ra. “Kabarkan kepada kami apa yang paling mengherankanmu dari perbuatan Rasulullah saw!” kata Atha. Siti Aisyah ra menangis. Ia kemudian bercerita bahwa suatu malam Rasulullah saw mendatanginya dan berbaring di kasurnya atau di dalam selimutnya sehingga kulit keduanya saling bersentuhan. “Wahai putri Abu Bakar, biarkan aku beribadah kepada Allah malam ini,” katanya. “Aku senang dekat dengamu Rasulullah,” jawab Aisyah ra. Rasulullah saw kemudian mendekati kirbat berisi air dan berwudhu. Pada kesempatan ini Rasulullah menuang banyak air untuk wudhunya. Aisyah pun merelakan suaminya beribadah menghidupkan malam. Rasulullah saw mulai melakukan shalat. Ia menangis. Air matanya mengalir sehingga membasahi dadanya. Ia turun untuk rukuk. Pada rukuk ini ia juga menangis. Kemudian itidal dan sujud. Ia juga bersujud dalam keadaan menangis. Bangun dari sujud ia juga menangis. Rasulullah saw terus melakukan shalat dengan menangis sepanjang malam sampai Bilal ra datang untuk mengabarkannya azan subuh. “Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosamu yang dahulu dan kemudian,” tanya Aisyah ra. “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur dan mengapa aku tidak melakukannya?” jawab Rasulullah. * Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI menyebut pengertian syukur sebagai rasa terima kasih kepada Allah swt. Adapun berikut ini adalah hakikat syukur yang disebutkan oleh al-Qusyairi. حقيقة الشكر عند أهل التحقيق الاعتراف بنعمة المنعم على وجه الخضوع Artinya, “Hakikat syukur menurut ahli hakikat adalah pengakuan atas nikmat Allah, Zat pemberi nikmat, dengan jalan ketundukan,” Lihat Abul Qasim Al-Qusyairi, ar-Risalatul Qusyairiyyah, [Kairo, Darus Salam 2010 M/1431 H], halaman 97. Hakikat syukur dapat juga berarti pujian terhadap orang yang berbuat baik dengan menyebut kebaikannya. Dengan demikian, syukur seorang hamba kepada Allah adalah pujian kepada Allah dengan menyebut kebaikan-Nya. Sedangkan syukur Allah kepadanya berupa pujian Allah dengan menyebut kebaikan hamba-Nya. Adapun kebaikan seorang hamba adalah ketaatannya kepada Allah. Sedangkan kebaikan Allah adalah pemberian nikmat Allah kepadanya berupa taufik dan hidayah agar ia mau bersyukur. Syukur atas nikmat Allah diucapkan dengan mulut dan disadari dengan hati. Sedangkan sebagian ulama membagi syukur dengan tiga ekspresi, pengakuan dengan lisan atas nikmat Allah, kepatuhan oleh anggota badan atas ibadah yang diperintahkan, dan syukur hati dengan musyahadah. Al-Qusyairi, 2010 M/1431 H 97-98. Abu Ustman mengatakan, syukur adalah menyadari keterbatasan kita untuk bersyukur. Ulama lainnya menambahkan, syukur karena bisa bersyukur merupakan nikmat yang lebih sempurna dari sekadar mensyukuri nikmat karena kita meyadari bahwa tanpa taufik-Nya kita takkan dapat bersyukur. Al-Junaid ketika berusia 7 tahun mengatakan saat ditanya pamannya di hadapan para jamaah "Syukur itu adalah kau tidak bermaksiat kepada Allah dengan nikmat-Nya." Abu Ustman mengatakan, syukur orang awam terkait dengan nikmat makanan, pakaian, dan material lainnya, sedangkan syukur orang khawash terkait pengertian dan pemahaman yang masuk ke dalam batin mereka. Nabi Dawud as mengatakan, “Tuhanku, bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu? Syukurku atas nikmat-Mu merupakan nikmat batin tersendiri dari sisi-Mu.” Suatu hari seseorang menemui Sahal bin Abdullah at-Tustari. Ia mengadu musibah kehilangan bahwa seorang pencuri masuk ke dalam rumahnya dan mengambil barang berharganya. “Bersyukurlah kepada Allah. Bagaimana kalau pencuri yaitu setan masuk ke dalam hatimu dan merusak keyakinanmu?” kata At-Tustari. Wallahu a’lam. Ustadz Alhafiz Kurniawan