Berikutadalah beberapa masalah global yang perlu diperhatikan: 1. REALITAS PERUBAHAN IKLIM MENGAMBIL - APA SELANJUTNYA UNTUK AMBISI? Dari banjir hingga kebakaran, perubahan iklim mendatangkan malapetaka pada kesehatan dan mata pencaharian masyarakat di seluruh dunia pada tahun 2018.
Upaya Ini Bertujuan untuk Meningkatkan Ketahanan Masyarakat Pesisir di IndonesiaWashington, DC, 7 Juni 2022. Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia pada tanggal 20 Mei 2022 menyetujui proyek untuk mendukung Pemerintah Indonesia meningkatkan pengelolaan mangrove sekaligus mengembangkan mata pencaharian bagi Mangrove untuk Ketahanan Pesisir akan berfokus pada penguatan kebijakan dan lembaga dalam mengelola dan merehabilitasi mangrove, meningkatkan pengelolaan mangrove secara berkelanjutan, serta meningkatkan berbagai peluang mata pencaharian bagi masyarakat pesisir yang hidup di sekitar hutan mangrove di beberapa daerah.“Keberhasilan proyek ini akan berkontribusi signifikan terhadap pencapaian sasaran pengurangan emisi Indonesia yang tercantum di dalam Nationally Determined Contributions NDC, serta sasaran kita untuk menjadikan sektor kehutanan dan penggunaan lahan sebagai Net Sink pada tahun 2030. Upaya restorasi dan konservasi mangrove sangat penting bagi pencapaian sasaran tersebut, dan merupakan wujud nyata kuatnya komitmen global Indonesia untuk beradaptasi terhadap dan memitigasi berbagai dampak perubahan iklim”, kata Siti Nurbaya Bakar, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik seluas sekitar 3,4 juta hektar, 20 persen dari seluruh mangrove yang ada di dunia berada di Indonesia dan mencakup 40 dari 54 spesies mangrove sejati true mangroves – saat ini tercatat memiliki keanekaragaman terkaya di dunia. Hutan mangrove Indonesia menyimpan 3,14 miliar ton CO2 dikenal dengan sebutan “blue carbon”, atau setara dengan emisi Gas Rumah Kaca yang dihasilkan oleh sekitar 2,5 miliar kendaraan bermotor yang dikendarai selama setahun. Mangrove merupakan komponen utama mata pencaharian masyarakat pesisir, serta menjadi sumber penting untuk makanan dan penghasilan. Sekitar 55 persen dari total biomassa perikanan tangkap di Indonesia merupakan spesies yang bergantung kepada mangrove, dengan produksi tahunan bernilai US$825 juta. Mangrove juga memiliki nilai pariwisata hingga US$30 juta per tahunnya. Penelitian Bank Dunia baru-baru ini mengungkap bahwa mangrove di Indonesia memiliki nilai total tahunan sebesar US$ hingga US$ per nilai yang demikian besar, mangrove di Indonesia perlu direhabilitasi. Dalam 20 tahun terakhir, Indonesia kehilangan hampir hektar mangrove setiap tahunnya lebih luas dari kota Paris, disebabkan oleh faktor-faktor tidak langsung, termasuk permintaan global akan beragam produk, seperti misalnya udang yang kerap dibudidayakan di kawasan yang sebelumnya ditumbuhi oleh mangrove serta kurangnya pemahaman mengenai nilai ekonomis pesisir yang bergantung kepada mangrove untuk ketahanan hidup dan mata pencaharian termasuk di antara mereka yang paling rentan di Indonesia. Mereka memiliki akses yang terbatas kepada layanan umum seperti sekolah menengah, air yang aman digunakan, listrik, dan tranportasi, dan mengalami kemiskinan 1,27 persen lebih tinggi daripada masyarakat yang tinggal di pedesaan bukan pesisir. Saat ini dengan adanya krisis yang disebabkan oleh COVID-19, angka kemiskinan kemungkinan besar meningkat – menekankan perlunya kebijakan dan investasi yang ditargetkan untuk mencapai masyarakat pesisir.“Bank Dunia memuji langkah berani yang telah diambil oleh Pemerintah Indonesia untuk mengendalikan laju pengurangan mangrove serta merehabilitasi kawasan mangrove yang terdegradasi dan terdeforestasii, dan oleh karena itu kami siap mendukung upaya-upaya tersebut. Konservasi ekosistem mangrove Indonesia yang sehat dan upaya rehabilitasi dengan sasaran yang jelas dan menggunakan praktik-praktik baik secara global dapat menghasilkan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi negara dalam bentuk ketahanan pesisir, produktivitas sektor perikanan, potensi pariwisata, dan mitigasi dampak perubahan iklim. Melalui proyek ini, Bank Dunia mendukung Indonesia meningkatkan pembangunan hijau yang berketahanan dan inklusif bagi masyarakat pesisir, di antaranya melalui penguatan kelembagaan serta kebijakan di tingkat nasional dan daerah dalam mengelola mangrove, juga menambahkan nilai mangrove dengan memungkinkan adanya skema pembayaran blue carbon yang terkandung di dalam mangrove,” ucap Satu Kahkonen, Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste. “Dengan mengintegrasikan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan ke dalam perencanaan di tingkat desa dan peningkatan peran perempuan dalam pengelolaan mangrove serta kepemimpinan di desa, kami berharap untuk menyaksikan terjadinya peningkatan tutupan mangrove serta pengurangan laju hilangnya mangrove.”Proyek ini dirancang untuk mendukung Program Rehabilitasi Mangrove Pemerintah yang ditargetkan untuk merehabilitasi mangrove seluas hektar hingga tahun 2024. Pada tahap awal, proyek ini difokuskan di empat provinsi yang memiliki porsi kawasan mangrove yang telah ada maupun yang terdegradasi, yaitu di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sumatera Utara, dan Riau. Model peningkatan konservasi, rehabilitasi, serta peningkatan mata pencaharian yang diterapkan pada proyek ini berpotensi untuk direplikasi di seluruh wilayah Indonesia. Proyek ini juga mendukung Rencana Aksi Iklim Kelompok Bank Dunia Tahun Fiskal 2021-25 serta Strategi Gender TF 2016-23, terutama dalam hal tujuan strategis terkait peluang ekonomi serta peningkatan suara dan agensi informasi lebih lanjut, kunjungi Ikuti kamiBankDunia

Matapencaharian yang ada dalam masyarakat akan berubah seiring dengan perkembangan zaman. Setiap masyarakat selama hidupnya, pasti mengalami yang namanya perubahan, perubahan tersebut dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti tidak terlalu mencolokdan ada juga perubahan yang pengaruhnya terbatas atau luas, ada perubahan yang sangat

Offres d'emploi pour Humanitaire Montréal, QCTrier par pertinence - date13 offres Laval, 3e plus grande ville du Québec, est en profonde transformation. Relevant de la Directrice du bureau de la résilience municipale de Laval, vous élaborez… PostedOffre publiée il y a 7 jourVoir toutes les offres de type Emplois Ville de Laval, QC », Laval » ou Emplois Chef de Division H/F - Laval, QC »Rechercher les salaires Cheffe de division - Sécurité civileConsultez les questions fréquemment posées à propos de Ville de Laval, QC As a Cybersecurity Operations Analyst, you are responsible for solutions owned and monitored by the Security Operations team, performing configuration,… PostedOffre publiée il y a plus de 30 joursVoir toutes les offres de type Emplois CMACGM », Montréal » ou Emplois Analyste H/F - Montréal, QC »Rechercher les salaires Security Operations Analyst/Analyste des opérations de Cybersécurité - Montréal, QCConsultez les questions fréquemment posées à propos de CMACGM Type de contrat Temps plein, permanent. Répondre en temps opportun aux préoccupations et aux questions soulevées par le personnel et créer un plan d’action… PostedOffre publiée il y a 19 jourVoir toutes les offres de type Emplois Croix Rouge Canadienne », Montréal » ou Emplois Comptable H/F - Montréal, QC »Rechercher les salaires Gestionnaire en comptabilité - Montréal, QCConsultez les questions fréquemment posées à propos de Croix Rouge Canadienne Type de contrat Temps plein, permanent. La Croix-Rouge canadienne CRC, organisme sans but lucratif des plus réputés et inspirants au monde, cherche à… PostedOffre publiée il y a 12 jourVoir toutes les offres de type Emplois Canadian Red Cross », Montréal » ou Emplois Comptable H/F - Montréal, QC »Rechercher les salaires Gestionnaire comptabilité - Montréal, QCConsultez les questions fréquemment posées à propos de Canadian Red CrossLes chercheurs d'emploi ont également recherché Masyarakat & Budaya, Vol. 26, No. 14, Agustus 2022] oleh Rusydan Fathy (Peneliti bidang Sosiologi Perkotaan Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN) "Pertama, tempat semakin direstrukturisasi sebagai pusat konsumsi, karena menyediakan konteks di mana barang dan jasa dibandingkan, dievaluasi, dibeli dan digunakan. Kedua, tempat itu sendiri dalam arti dikonsumsi, terutama secara visual Kampung Mutus adalah kampung nelayan di kepulauan Raja Ampat di bagian Timur Indonesia. Lokasi ini terkenal dengan budi daya ikan lautnya. Seorang keturunan Tionghoa bernama Ateng memulainya pada 1989 untuk mencari tongseng atau kerapu merah.“Saya punya kakak bertemu dengan Ateng, dia ajak ke Kampung Mutus. Kebetulan tongseng di sini banyak. Akhirnya kampung ini disebut kampung nelayan. Karena bisa rawat ikan-ikan yang ditangkap di keramba-keramba penampung,” kata Markus Dimara, Kepala Adat Kampung Mutus.“Nelayan sekarang, keluar pagi dengan dua puluh liter bensin paling banyak dapat sepuluh ekor, bahkan ada yang dua ekor. Karena hasil laut semakin waktu semakin berkurang. Karena cara penangkapan yang tidak teratur di masa lalu,” perikanan memiliki peran penting dalam perekonomian Raja Ampat dan juga Indonesia. Tantangan masih berdatangan, yang mempengaruhi kehidupan dan mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada laut. Penangkapan ikan secara berlebihan telah mengurangi pasokan ikan, sepertiga terumbu karangnya berada dalam keadaan terdegradasi, sampah laut meningkat, dan separuh area mangrovenya tidak dalam segara biru di Timur Indonesia, peluang bumi masih ada dan warga masih bisa konservasi – Warga Yensawai Barat, Raja Ampat, menyiapkan bibit mangrove untuk ditanam. Mangrove melindungi pesisir dari gelombang tinggi dan abrasi. Perlu kegiatan konservasi yang lebih kuat agar deforestasi mangrove dapat dihentikan, misalnya perluasan moratorium alih fungsi hutan primer hingga meliputi seluruh ekosistem mangrove. Foto Donny Fernando/National Geographic ekosistem laut dan pesisir adalah kunci bagi kesejahteraan IndonesiaAwaludin Noer Ahmad, atau akrab disapa Wawan Mangile, koordinator program untuk wilayah Kepala Burung Papua di Yayasan Konservasi Nusantara menyatakan bahwa ketika pandemi muncul, ada banyak celah untuk bertahan di Raja Ampat.“Masyarakat tahu ada pandemi, tapi tidak takut lapar. Itu salah satu indikasi bahwa memang mereka percaya bahwa konservasi adalah jalan nyata. Jika sektor wisata mati total, pasti kita sengsara. Tapi masyarakat kampung di Raja Ampat bilang kami masih punya ikan, sagu, dan kasbi. Yang kami tidak punya hanya uang,” Wawan, kearifan di Raja Ampat telah lama mengandung nilai konservasi. Salah satu contohnya adalah sasi, yang bertujuan untuk mengatur kelestarian sumber daya alam. Khususnya di laut, biota tidak boleh ditangkap pada kurun waktu tertentu, sebelum dipanen secara bersamaan. Tradisi ini menjaga agar biota bisa berkembang biak dan tidak punah.“Misalnya saat sasi mereka ambil teripang ada ukuran yang dibatasi, tidak diambil semua. Kemudian mereka butuh waktu 5-6 tahun untuk buka lagi,” kata Wawan. “Ketika dibatasi, mereka bisa buka tiap tahun. Mereka juga tidak ambil lobster yang punya telur. Sehingga populasi teripang dan lobster terjaga.”Kearifan ini dapat diterapkan di wilayah lain di Nusantara. Laporan baru Bank Dunia yang berjudul Laut untuk Kesejahteraan juga menyebutkan bahwa Pemerintah dapat memberikan hak panen kepada masyarakat tertentu di pesisir, atau kepada perusahaan, dalam jumlah dan batas tangkapan tertentu. Prinsip berbasis hak ini dapat mendorong pengelolaan yang lebih baik dan meningkatkan produktivitas pariwisata berkelanjutan dan mengurangi sampah plastikBelajar sejak dini Usal kanan berkomitmen mendidik anak-anak Pulau Arborek. Kegiatan belajar-mengajar masih terus dilakukan walau terdapat ketertinggalan dari segi fasilitas. Usal merupakan salah satu guru sukarela di Kitong Bisa. Mereka mengajarkan nilai kehidupan termasuk konservasi dan pariwisata dengan metode bahasa Inggris setiap Sabtu dan Minggu. Foto Donny Fernando/National Geographic laut Raja Ampat dan kehidupan bawah laut yang mempesona menjadikan pariwisata sebagai salah satu kontributor utama ekonomi lokal. Ini juga berarti pandemi COVID-19 sangat berdampak pada pariwisata di Raja Ampat, khususnya bagi pemilik dive center atau homestay kecil. Sekalipun ada wisatawan, mereka lebih memilih resort — penginapan berfasilitas mewah. Arborek Dive Shop milik Githa Anasthasia dan Marsel Mambrasar saja selama pandemi baru kedatangan 15 tamu.“Orang lebih suka menginap di resort yang proper ketimbang tinggal dengan masyarakat lokal, walaupun tidak seratus persen,” ucap jumlah kedatangan turis turun drastis, pandemi memberi banyak pelajaran bagi Marsel dan Githa, terkait makna pariwisata yang berkelanjutan. Mereka bisa bertahan dengan mata pencaharian lain, seperti berkebun atau mengolah ikan laut menjadi produk ikan asin.“Itu yang harus kita pelajari dari pariwisata berkelanjutan, sekalipun tanpa wisatawan,” pungkas jumlah wisatawan menurun di Raja Ampat, pencemaran sampah plastik masih terus terjadi. Menurut Marsel, sumbernya tak lepas dari Sorong, kota terbesar di Papua Barat, dan Waisai, kota kecil di bagian selatan Pulau Waigeo di Kepulauan Raja ini dibenarkan juga oleh Wawan. “Biak sudah menetapkan aturan tidak boleh pake kantong kresek, jadi kembali ke noken,” mengacu pada tas anyaman tradisional yang terbuat dari serat kayu atau Laut untuk Kesejahteraan menyebutkan bahwa selain inisiatif seperti pembersihan pantai, diperlukan insentif untuk inovasi dan daur ulang plastik, serta strategi untuk mengurangi penggunaan plastik. Selain itu, kegiatan restorasi dan peningkatan infrastruktur desa dapat menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan ketahanan Anasthasia, warga yang aktif dalam pelestarian, usai menyelam untuk mengamati perilaku pari manta. Pelestarian alam membawa manfaat ekonomi dan mata pencaharian bagi masyarakat..Mendorong ekonomi laut berkelanjutan melalui kolaborasiBank Dunia mendukung upaya pemerintah untuk mewujudkan ekonomi laut berkelanjutan – atau strategi ekonomi biru. Strategi ini berfokus pada investasi untuk meningkatkan mata pencaharian masyarakat pesisir dan memulihkan ekosistem kritis, Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang – investasi selama 20 tahun bagi pengelolaan dan penelitian terumbu karang, serta Program Pembangunan Pariwisata Terintegrasi dan Berkelanjutan P3TB , yakni sebuah platform untuk perencanaan dan infrastruktur pariwisata yang terintegrasi dan Dunia juga memberikan dukungan teknis melalui Indonesia Sustainable Oceans Program, melengkapi upaya peningkatan kapasitas dan basis pengetahuan terkait ekonomi berbagai upaya di atas dan berbagai kegiatan lainnya, Indonesia dapat mewujudkan ekonomi biru untuk generasi sekarang dan ini diadaptasi dari artikel majalah National Geographic Indonesia edisi khusus laut, Mei 2021, berjudul “Rencana Tuhan di Raja Ampat”, yang ditulis oleh Fikri Muhammad. Artikel ini ditulis dengan kemitraan antara Bank Dunia dan National Geographic Indonesia. Foto oleh Donny Fernando. alternatifmata pencaharian masyarakat di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, menggambarkan daerah cukup variatif antara lain sebagai nelayan, petani tanaman pangan, peternakan, pedagang, buruh bangunan dan lain sebagainya. Mata pencaharian pertanian dan peternakan merupakan mata pencaharian utama masyarakat setempat sebelum tahun 2002. Wakatobi, Indonesia, 8 Januari 2015 – Dulu Sudirman bekerja sebagai nelayan di Wakatobi, Sulawesi. Penghasilannya tidak cukup memenuhi kebutuhan keluarga, hingga ia harus mencari pekerjaan tambahan. Kini Sudirman memiliki usaha kecil yang menyewakan peralatan menyelam dan menjadi pemandu wisata bahari. Hidup Sudirman dan keluarganya kini jauh lebih sejahtera. “Dulu ada kalanya kita tidak tahu apa bisa makan atau tidak. Sekarang bisa bayar sekolah anak dan kebutuhan lain juga,” ujarnya bangga. Hidup Sudirman berubah berkat kondisi terumbu karang Wakatobi yang membaik dengan dukungan Coremap, sebuah program Bank Dunia yang bertujuan merehabilitasi terumbu karang sambil meningkatkan matapencaharian masyarakat setempat. Cakupan terumbu karang meningkat Coremap beraktivitas di 358 desa pesisir di berbagai wilayah Indonesia yang mata pencaharian masyarakatnya sangat bergantung pada penangkapan ikan berskala kecil di sekitar terumbu karang. Seperti Sudirman, banyak penduduk yang mengatakan bahwa pemasukan dari menangkap ikan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu,dulu banyak yang menangkap ikan dengan cara yang salah. Tapi sekarang tidak lagi. “Dulu di sini banyak nelayan yang pakai bom,” kata Hendriawan, seorang nelayan Wakatobi. “Tapi sekarang mereka sudah behenti karena sadar tentang bahaya merusak terumbu karang.” Coremap telah membantu memperbaiki cakupan terumbu karang dengan menetapkan zona penangkapan ikan dan zona terlarang, memberdayakan nelayan untuk memantau terumbu karang, serta meningkatkan kesadaran masyarakat melalui berbagai tindakan edukasi termasuk pendidikan formal di sekolah. Meningkatkan mata pencaharian masyarakat pesisir Coremap juga telah mengubah ekonomi setempat. “Sebelum ada Coremap, penduduk di desa ini pemasukannya sangat tergantung pada penangkapan ikan. Sekarang sudah banyak hal-hal lain seperti usaha-usaha kuliner, kerajinan, dan suvenir,” kata Sudirman. Program Coremap telah membantu masyarakat mencari cara-cara baru untuk meningkatkan pemasukan menggunakan sumberdaya lokal. Dengan menyediakan dana bergulir dan pelatihan, banyak yang sudah bisa mengubah sumber mata pencaharian mereka. Sebuah survei menunjukkan bahwa pemasukan masyarakat yang menerima dana bergulir dari Coremap rata-rata naik sekitar 20%. “Ibu-ibu di desa kami sudah lama mau membuka usaha kecil, tapi kami tidak tahu caranya. Sekarang kita sudah belajar keterampilan baru untuk memulai usaha di rumah,” kata Hanarfah, salah satu ibu yang sekarang memiliki usaha produk makanan dari ikan. Menyadari bahwa sumber pemasukan baru mereka sangat tergantung pada terumbu karang, masyarakat semakin merasa perlunya menjaganya. “Dulu saya ikut bekerja sebagai penambang terumbu karang,” kata Sartinah, yang juga memproduksi makanan dari ikan. ”Tapi saya sudah berhenti karena terumbu karang itu penting. Kalau terumbu karang hilang, saya tidak dapat ikan, tidak ada turis juga dan saya tidak bisa berjualan,” katanya. Masyarakat di Wakatobi juga membentuk kelompok yang mengumpulkan uang untuk membantu upaya pelestarian terumbu karang. “Saya dan teman-teman tahu, kami dapat lebih banyak uang karena kondisi terumbu karangnya membaik. Jadi kami menyisihkan 10 persen keuntungan untuk membantu perlindungan terumbu karang,” kata Sudirman. Sayangnya, meski pemasukan sudah mulai meningkat, namun mata pencaharian alternatif tersebut baru bersifat tambahan, belum bisa sepenuhnya beralih dari kegiatan menangkap ikan. Fase ketiga Coremap yang dimulai pada Februari 2014, akan meningkatkan dukungan mata pencaharian alternatif. Salah satu hal yang akan dilakukan adalah pembuatan infrastruktur dan akses pasar untuk meningkatkan penjualan produk dan jasa yang sudah dibuat masyarakat. Masyarakatdi Zeila, sebuah distrik pelabuhan di Somaliland yang berbatasan dengan Djibouti, menangkap ikan dari Teluk Aden dan menjual hasil tangkapan mereka secara lokal dan di Djibouti dan Yaman. Keanekaragaman hayati yang penting secara global ini menopang mata pencaharian pesisir dan ketahanan pangan, tetapi berisiko dari perubahan
Program Melestarikan Laut Indonesia Mengelola laut dan ekosistemnya secara berkelanjutan untuk meningkatkan mata pencaharian masyarakat pesisir, melindungi kesehatan laut, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Peta Lokasi Proyek Jelajahi lokasi proyek Bank Dunia di Indonesia dan filter datanya sesuai kebutuhan Anda. Pencapaian Lihat capaian beberapa proyek Bank Dunia di Indonesia. Open Data Bank Dunia memberikan akses gratis dan terbuka untuk data lengkap mengenai pembangunan dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. INDO-DAPOER Indonesia Database for Policy and Economic Research memiliki data sub-nasional hingga 200 indikator pembangunan.
MataPencaharian Sehari-hari Dalam dokumen HIBRIDA LOKAL-GLOBAL PADA POLITIK KOMODIFIKASI BUDAYA SERENTAUN REKONSTRUKTIF, UPACARA TAHUNAN MASYARAKAT SUNDA, DI SINDANGBARANG KABUPATEN BOGOR (Halaman 47-53) BAB II. KONTEKS SOSIAL SERENTAUN 2.2. Serentaun Rekonstruktif Pada Masyrakat Transisi Sindangbarang 2.2.2. Mata Pencaharian Sehari-hari Jelajahi keterkaitan antara Agenda 2030 dan migrasi Arahkan kursor ke ikon setiap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan SDG untuk mengetahui lebih banyak. Baca selengkapnya Migrasi dapat menjadi alat pengentasan kemiskinan yang efektif bagi para migran dan keluarga mereka dan dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi upaya pembangunan baik di negara asal maupun negara tujuan Kerawanan pangan dapat menjadi pendorong migrasi bagi individu dan keluarganya. Menangani kesehatan dan kesejahteraan para migran merupakan prasyarat bagi pembangunan sosial dan ekonomi. Pendidikan dapat memfasilitasi integrasi sosial-ekonomi anak-anak migran dan meningkatkan mata pencaharian mereka sebagai orang dewasa. Kelangkaan air dan isu-isu terkait dapat berdampak pada standar hidup, ketersediaan pangan dan kesehatan yang pada gilirannya dapat menjadi pendorong migrasi. Solusi energi alternatif dan yang murah dapat bermanfaat bagi masyarakat yang rentan atau terlantar dengan akses listrik yang terbatas atau tidak ada sama sekali. Pekerjaan yang layak dan lingkungan kerja yang aman dan terjamin bagi para migran sangat penting agar mereka dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Migrasi dapat menjadi sumber pemberdayaan bagi perempuan dan anak perempuan, namun demikian migrasi juga dapat menjadikan mereka menjadi sangat rentan terhadap kekerasan, pelecehan seksual dan eksploitasi. Para migran dapat mentransfer pengetahuan dan keterampilan yang berharga ke negara asal dan tujuan mereka, membantu mendukung pengembangan teknologi, penelitian dan inovasi. Tata kelola migrasi yang efektif sangat penting untuk migrasi yang lebih aman, lebih manusiawi, dan teratur, yang merupakan faktor penting untuk mencapai pembangunan berkelanjutan. Migran membantu kota untuk berkembang dan menjadi pusat ekonomi dan kehidupan yang lebih bersemangat dan sukses. Mempromosikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan dapat membantu melindungi pekerja migran dari eksploitasi. Migrasi dapat menjadi strategi adaptasi perubahan iklim yang potensial dan cara untuk membangun ketahanan. Memerangi degradasi ekosistem laut dan pesisir dan mendiversifikasi mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut dapat membantu mengatasi pemindahan paksa dan migrasi. Deforestasi, degradasi lahan, penggurunan, dan hilangnya keanekaragaman hayati dapat berdampak besar pada masyarakat yang mata pencahariannya bergantung pada sumber daya alam dan dapat menjadi pendorong migrasi. Lembaga yang lebih kuat, lebih transparan dan akuntabel serta akses yang lebih baik terhadap keadilan dapat membantu melindungi dan mempromosikan hak-hak migran. Data migrasi yang tepat waktu, andal, dan dapat dibandingkan dapat membantu pembuat kebijakan menyusun kebijakan dan rencana berbasis bukti untuk menangani aspek migrasi SDGs.
Pertanianmerupakan sektor utama mata pencaharian bagi penduduk di dataran rendah. Kegiatan pertanian akan menghasilkan tanaman pangan dan tanaman komoditas. Melansir situs resmi Badan Pusat Statistik di Indonesia pada tahun 2020, terjadi penurunan penduduk yang bekerja di bidang pertanian, adapun jumlahnya yaitu 33,4 juta.
monkeybusinessimages Ruang kerja terbuka di kantor. - Semakin menurunnya jam kerja secara global akibat wabah COVID-19 menyebabkan 1,6 miliar pekerja di perekonomian informal–hampir setengah dari jumlah angkatan kerja global–berada dalam bahaya langsung mengalami kehancuran mata pencarian mereka, demikian Organisasi Perburuhan Internasional International Labour Organization/ILO mengingatkan. Menurut “Monitor ILO edisi ketiga COVID-19 dan dunia kerja”, penurunan jam kerja di kuartal kedua tahun 2020 kini diperkirakan akan semakin buruk dibandingkan estimasi sebelumnya. Dibandingkan dengan tingkatan sebelum krisis Q4 2019, saat ini diperkirakan akan terjadi kemorosotan 10,5 persen, setara dengan 305 juta pekerjaan penuh waktu dengan asumsi 48 jam kerja seminggu. Estimasi sebelumnya adalah penurunan 6,7 persen, setara dengan 195 juta pekerja penuh waktu. Ini diakibatkan perpanjangan dan perluasan tindakan karantina. Baca Juga TIngkatkan Literasi Keuangan di Tengah Pandemi, Berikut Caranya Secara regional, situasi ini memburuk untuk semua kelompok regional utama. Estimasi memperkirakan 12,4 persen hilangnya jam kerja di Q2 untuk kawasan Amerika dibandingkan dengan tingkatan sebelum krisis dan 11,8 persen untuk kawasan Eropa dan Asia Tengah. Estimasi untuk kelompok-kelompok regional lainnya mendekati angka itu dan semuanya di atas 9,5 persen. Dampak perekonomian informal Sebagai akibat dari krisis ekonomi yang disebabkan oleh pandemi, hampir sekitar 1,6 miliar pekerja perekonomian informal mewakili kelompok paling rentan di pasar kerja, dari sekitar dua juta miliar di seluruh dunia dan 3,3 miliar angkatan kerja global, mengalami kerusakan besar dalam kapasitas mereka untuk memperoleh pendapatan. Hal ini dikarenakan tindakan karantina dan/atau karena mereka bekerja di sektor yang paling terkena imbas pandemi. Bulan pertama krisis ini diperkirakan mengakibatkan kemorosotan 60 persen dari penghasilan pekerja informal secara global. Bila dirincikan secara kawasan kemerosotan 81 persen terjadi di kawasan Afrika dan Amerika, 21,6 persen di kawasan Asia dan Pasifik dan 70 persen di Eropa dan Asia Tengah. Tanpa sumber penghasilan alternatif, para pekerja dan keluarganya tidak memiliki sarana apapun untuk bertahan. Usaha terkena risiko Proporsi pekerja yang hidup di negara-negara yang merekomendasikan atau mewajibkan penutupan tempat kerja telah menurun dari 81 menjadi 68 persen selama dua minggu terakhir ini. Penurunan dari estimasi sebelumnya, yaitu 81 persen pada monitor edisi kedua diterbitkan 7 April, utamanya disebabkan oleh perubahan di Tiongkok; sementara di wilayah lainnya penutupan tempat kerja meningkat. Di seluruh dunia, lebih dari 436 juta usaha menghadapi risiko tinggi gangguan yang serius. Usaha-usaha ini beroperasi di sektor ekonomi yang paling terkena imbas pandemi, termasuk 232 juta di sektor usaha eceran, 111 juta di manufaktur, 51 juta di akomodasi dan jasa makanan dan 42 juta di usaha properti dan kegiatan usaha lainnya. PROMOTED CONTENT Video Pilihan
668CnW5.
  • a47x1cn6cf.pages.dev/247
  • a47x1cn6cf.pages.dev/285
  • a47x1cn6cf.pages.dev/149
  • a47x1cn6cf.pages.dev/316
  • a47x1cn6cf.pages.dev/236
  • a47x1cn6cf.pages.dev/184
  • a47x1cn6cf.pages.dev/77
  • a47x1cn6cf.pages.dev/206
  • a47x1cn6cf.pages.dev/83
  • mata pencaharian masyarakat global